Monday, 3 February 2014

Pengaruh bacaan Al Qur’an secara Ilmiah

“Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Al-Qur’an…”.
Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.
Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan.
Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.
Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur’an.
Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an.
Al-Qur’an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.
Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Al-Qur’an. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Qur’an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur’an memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).
Mahabenar Allah yang telah berfirman, “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. 7: 204).

Anak tunanetra penghafal Quran

Mata adalah jendela dunia. Tanpanya, hidup terasa tak sempurna. Sedih dan mengeluh itu pasti terjadi pada sebagian manusia yang kehilangan penglihatannya. Tapi tidak dengan anak kecil tunanetra dari Mesir ini. Ia adalah salah satu hamba Allah yang ikhlash atas ketetapanNya.
Penyiar TV Arab Saudi Al-Wathan mewancarai anak istimewa ini. Seorang anak laki-laki tunanetra penghafal Al-Quran dari Mesir yang berusia 11 tahun.
Dalam wawancara itu penyiar TV Al-Wathan menanyakannya perihal bagaimana ia belajar Al-Quran dan kebutaannya.
Semangatnya untuk menghafal ayat-ayat Allah yang mulia membuat langkah kakinya ringan untuk pergi ke tempat gurunya. 
“Saya yang datang ke tempat syaikh,” katanya.
“Berapa kali dalam sepekan?” tanya penyiar TV.
“Tiga hari dalam sepekan,” jawabnya.
Jawaban anak ini kian membuat terkejut ketika anak ini memberitahu penyiar bahwa Syaikh yang mengajarinya Al-Quran hanya mengajarinya satu ayat per hari.
“Pada awalnya hanya satu hari dalam sepekan. Lalu saya mendesak beliau dengan sangat agar ditambah harinya, sehingga menjadi dua hari dalam sepekan. Syaikh saya sangat ketat dalam mengajar. Beliau hanya mengajarkan satu ayat saja setiap hari,” ujarnya.
“Satu ayat saja?” respon penyiar terkejut, takjub dengan semangat baja anak ini.
Dalam tiga hari itu ia khususkan untuk belajar ayat-ayat suci Al-Quran, hingga ia tidak bermain dengan kawan-kawan sebayanya.
Sang penyira tersenyum dan menempuk paha anak itu tanda kagum, yang disambut senyum ceria oleh anak ini.
Yang lebih mengagumkan adalah pernyataannya tentang kebutaannya. Ia tidak berdoa kepada Allah agar Allah mengembalikan penghilahatannya, rahmat Allah yang ia harapkan.
“Dalam shalatku, aku tidak meminta kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanku,” katanya.
Mendengar jawaban anak ini sang penyiar semakin terkejut.
“Engkau tidak ingin Allah mengembalikan penglihatanmu? Kenapa?” tanyanya heran.
Dengan wajah meyakinkan, anak itu memaparkan alasannya. Bukan ia tak yakin pada Allah, bukan. Namun ia menginginkan yang lebih indah dari penglihatan.
“Semoga menjadi keselamatan bagiku pada hari pembalasan (kiamat), sehingga Allah meringankan perhitungan (hisab) pada hari tersebut. Allah akan menanyakan nikmat penglihatan, apa yang telah engkau lakukan dengan penglihatanmu? Saya tidak malu dengan cacat yang saya alami. Saya hanya berdoa semoga Allah meringankan perhitungan-Nya untuk saya pada hari kiamat kelak,” paparnya dengan tegas.
Mendengar kalimat mulia anak ini, semua diam. Penyiar TV nampak berkaca-kaca dan air matanya menetes. Para pemirsa di stasiun TV serta kru TV tersebut juga tak tahan menitikkan air mata.

“Pada saat ini, saya teringat banyak kaum muslimin yang mampu melihat namun bermalas-malasan dalam menghafal kitab Allah, Al-Quran. Ya Allah, bagaimana alasan mereka besok (di hadapan-Mu)?” kata penyiar.
“Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan,” kata penghafal Quran muda ini.
Subhanallah, indahnya dunia tak membuatnya lupa akan Rabbnya dan hari pembalasan.
Ia juga mengatakan bahwa ia terinspirasi dari kaidah Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah (rahimahullah). “Kaidah imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang berbunyi ‘Allah tidak menutup atas hamba-Nya satu pintu dengan hikmah, kecuali Allah akan membukakan baginya dua pintu dengan rahmat-Nya,’” katanya.
Kehilangan penghlihatan sejak kecil, tidak membuat ia mengeluh kepada Sang Pencipta. Ia tak iri pada orang lain apalagi kufur nikmat. Ikhlash menerima takdirNya.
“Segala puji Allah, saya tidak iri kepada kawan-kawan meski sejak kecil saya sudah tidak bisa melihat. Ini semua adalah qadha’ dan qadar Allah,” katanya.
“Kita berdoa kepada Allah semoga menjadikan kita sebagai penghuni surga Al-Firdaus yang tertinggi,” kata anak istimewa ini.
Matanya yang buta, tak membuat hatinya buta dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Subhanallah.
Dalam sebuah hadits Qudsi Nabi (shallallahu ‘alaihi wa salam) bersabda: 
إِنَّ اللَّهَ قَالَ: إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ، عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الجَنَّةَ
Allah berfirman: “Jika Aku menguji hamba-Ku dengan menghilangkan penglihatan kedua matanya lalu ia bersabar, niscaya Aku akan menggantikan penglihatan kedua matanya dengan surga.” (HR. Bukhari no. 5653, Tirmidzi no. 2932, Ahmad no. 7597, Ad-Darimi no. 2795 dan Ibnu Hibban no. 2932).

Anak Kecil Pertama di Dunia yang Hafal Al Quran

[an-najah.net] Seorang anak kecil berumur 3 tahun asal Saudi, Abdurrahman Farih, menjadi anak kecil pertama di dunia yang berhasil menghafal Al Qur’an 30 juz.
Kepada salah satu stasiun TV, kedua orang tuanya mengatakan, “Abdurrahman mengalami keterlambatan dalam berbicara. Ia baru bisa berbicara ketika umurnya menginjak 2 tahun. Itu pun ia baru dapat berbicara Abi dan Umi.”Abdurrahman Farih merupakan salah satu anak ajaib di dunia, ia sudah hafal Al Qur’an 30 juz saat usianya baru meninjak 3 tahun. Padahal sebelumnya ia mengalami keterlambatan dalam berbicara.
Sebelumnya juga ada rekor baru, seorang berusia 70 tahun berwarganegara Suriah juga berhasil menjadi Hafidz Al Quran.
Padahal sebagaimana diketahui, orang yang telah berusia senja biasanya sulit untuk mengingat nama orang yang dekat dengannya, terlebih untuk menghafal Al Qur’an yang terdiri dari 600 halaman dan terkenal dengan kekuatan balaghoh dan kefasehannya. (Fani)

Tips Menghafal Al-Qur’an ala Imam Masjidil Haram

Menghafal  Al-Quran merupakan perbuatan paling mulia. Selain memiliki banyak keutamaan di akhirat, Allah Swt. juga berjanji akan meninggikan derajat bagi para penghafal Al-Qur’an.
Imam Masjid Nabawi, Syaikh Sa’ad Al Ghamidi memberikan lima tips yang mesti diperhatikan bagi para penghafal Qur’an atau yang sedang menghafalkan Qur’an.  Pertama, harus mempunyai tujuan yang jelas. Kedua, harus ada lembaga yang menyelenggarakan program menghafal Qur’an. Lembaga ini berfungsi mengkoordinasi  yang ingin menghafal Qur’an agar tetap terjaga semangatnya dan berhenti di tengah jalan. Ketiga, harus ada metode yang digunakan. Tidak asal begitu saja. Jika memang ingin sungguh-sungguh, maka mesti ada metode yang dipakai. Metode yang digunakan harus efektif dan bisa digunakan bagi seluruh kalangan. “Karena kemampuan masing-masing orang dalam menghafal berbeda-beda. Ada yang bisa menghafal satu halaman per hari, namun ada juga yang hanya bisa menghafal satu ayat saja per hari,” ujarnya. Keempat, harus ada mu’allim (guru) yang menjadi rujukan dan mempunyai kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Guru harus fasih bacaannya. Bisa menjadi qudwah (tauladan) kepribadian dan akhlaknya. Kelima, harus ada follow-up setelah menyelesaikan hafalan Qur’an. Jadi, penghafal Qur’an yang telah merampungkan hafalannya tidak dilepaskan begitu saja. Harus ada program khusus untuk menjaga hafalannya. (Sumber : Republika Online/diolah)

Keutamaan Tahfidz

Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang mengajak kepada pintu-Nya, Yang memberi taufik kepada orang yang dikehendaki-Nya, memberi nikmat dengan menurunkan kitab-Nya yang mengandung ayat yang muhkam dan mutashabih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah subhanahu wata’ala, tiada sekutu bagi-Nya, persaksian yang aku berharap selamat dari siksa-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan rasul-Nya, manusia paling sempurna dalam amal ibadah dalam pergi dan pulangnya.
Semoga shalawat selalu tercurah kepadanya, kepada Abu Bakar radhiallahu’anhu sahabatnya paling utama, kepada Umar radhiallahu’anhu yang Allah subhanahu wata’ala memuliakan agama dan dunia menjadi lurus dengannya, kepada Utsman radhiallahu’anhu syahid dalam rumah dan mihrabnya, dan kepada Ali radhiallahu’anhu yang terkenal menyingkap ilmu yang rumit dan membuka tutupnya, dan kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang yang lebih utama dengannya.
Saudara-saudaraku, Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, * agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya.Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir:29-30)
Membaca al-Qur`an terbagi dua, Pertama, membaca secara hukum, membenarkan beritanya dan melaksanakan hukumnya, hal itu dengan cara melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Hal itu insya Allah akan dibahas di majelis yang lain.
Kedua, membaca secara lafazh yaitu membacanya. Banyak sekali nash yang menunjukkan keutamaannya. Dalam Shahih al-Bukhari, dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari dan mengajarkan al-Qur`an.” HR. Al-Bukhari 4739, at-Tirmidzi 2908, Abu Daud 1452, Ibnu Majah 211, Ahmad 1/69, dan ad-Darimi 3338
Dalam Shahihaian, dari Aisyah radhiallahu ‘anha, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Orang yang pandai membaca al-Qur`an bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti, dan orang yang membaca al-Qur`an dan ia terbata-bata padanya serta merasa berat atasnya, untuknya dua pahala.” HR. Muslim 798, at-Tirmidzi 2904, Abu Daud 1454, Ibnu Majah 3779, Ahmad 6/98, ad-Darimi 3368.
Dua pahala, pertama adalah pahala membaca dan yang kedua karena susahnya dalam membaca. Dalam Shahihain pula, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Perumpamaan orang beriman yang membaca al-Qur`an adalah seperti buah utrujjah, rasanya enak dan aromanya wangi. Dan perumpamaan orang beriman yang tidak membaca al-Qur`an adalah bagaikan buah kurma, tidak ada aromanya dan rasanya manis.” HR. Al-Bukhari 5111, Muslim 797, at-Tirmidzi 2865, an-Nasa`i 5038, Abu Daud 4829, Ibnu Majah 214, Ahmad 4/408 dan ad-Darimi 3363.
Dalam Shahih Muslim, dari Abu Umamah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bacalah al-Qur`an, sesungguhnya ia datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya.” HR. Muslim 804 dan Ahmad 5/255
Dalam Shahih Muslim, dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seseorang darimu pergi ke masjid, lalu ia mempelajari atau membaca dua ayat dari al-Qur`an, lebih baik baginya daripada dua ekor unta, tiga ayat lebih baik dari pada tiga unta, empat ayat lebih baik baginya dari pada empat ekor unta, dan dari jumlahnya dari unta.” HR. Muslim 803, Abu Daud 1456, dan Ahmad 4/154.
Dalam Shahih Muslim pula, dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah satu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah subhanahu wa ta’ala (masjid), membaca kitabullah (al-Qur`an) dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan turunlah sakinah (ketenangan) kepada mereka, diliputi rahmat dan dikelilingi malaikat, dan Allah subhanahu wata’ala menyebutkan mereka pada orang (malaikat) yang ada di sisi-Nya.” HR. Muslim 2699, at-Tirmidzi 2945, Abu Daud 1455, Ibnu Majah 225, dan Ahmad 2/252.
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jagalah hapalan al-Qur`an, demi Allah subhanahuwata’ala yang diriku berada di tangan-Nya, sungguh ia lebih cepat terlepas dari pada unta dalam ikatannya.” Muttafaqun ‘alaih. HR. Al-Bukhari 4746, Muslim 791, dan Ahmad 4/397.
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah seseorang darimu berkata ‘aku lupa ayat ini dan ini, tetapi ia dilupakan.” HR. Al-Bukhari 4744, Muslim 790, at-Tirmirdzi 2942, an-Nasa`i 943, Ahmad 1/417, dan ad-Darimi 2745
Hal itu dikarenakan ucapannya, ‘aku lupa’ bisa memberikan arti tidak memperdulikan hapalan al-Qur`an-nya hingga ia melupakannya.
Dari Abdullah bin Mas’ud ra, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang membaca satu huruf al-Qur`an maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan dibalas sepuluh kebaikan, aku tidak mengatakan satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.’ HR. At-Tirmidzi 2910 dan ia berkata: Hasan shahih dari jalur ini, dan sebagian ulama mutaakhirin menshahihkannya secara mauquf kepada Ibnu Mas’ud.
Dan darinya pula, ia berkata:
‘Sesungguhnya al-Qur`an ini adalah jamuan Allah subhanahuwata’ala maka terimalah jamuannya sebatas kemampuanmu. Sesungguhnya al-Qur`an ini adalah tali Allah subhanahuwata’ala yang kuat dan cahaya yang nyata, penyembuh yang bermanfaat, penjaga bagi siapa yang berpegang dengannya dan keselamatan bagi yang mengikutinya, tidak menyimpang maka perlu dibetulkan, tidak bengkok sehingga perlu diluruskan, tidak pernah berakhir keajaibannya, tidak jenuh karena banyak diulangi. Bacalah, sesungguhnya Allah subhanahuwata’ala memberi pahala kepadamu karena membacanya setiap huruf sepuluh kebaikan. Adapun saya, sungguh aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, mim satu huruf dan lam satu huruf.’ HR. Hakim, Ad-Darimi 3315
Saudara-saudaraku, inilah keutamaan membaca al-Qur`an, pahala ini bagi yang mengharapkan pahala dan ridha dari Allah subhanahu wata’ala. Pahala besar untuk amal yang sedikit. Maka orang yang tertipu adalah yang lalai padanya, orang yang rugi adalah orang yang tidak mendapatkan keuntungan saat tidak bisa lagi menyusulnya. Keutamaan ini mencakup semua al-Qur`an, dan disebutkan dalam sunnah tentang keutamaan beberapa surat tertentu.
Di antara surah tersebut adalah surah al-Fatihah: Dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Sa’id bin Mu’alla radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:
“Aku akan mengajarkan kepadamu surah terbesar dalam al-Qur`an ‘alhamdulillahi rabbil ‘alamin’ (al-Fatihah) tujuh (ayat) yang diulang-ulang dan al-Qur`an agung yang diberikan kepadaku.” HR. Al-Bukhari 4720, an-Nasa`i 4720, Abu Daud 1458, Ibnu Majah 3785, Ahmad 4/211, dan ad-Darimi 1492.
Karena keutamaannya tersebut, membacanya merupakan salah satu rukun shalat yang tidak sah kecuali dengannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah.” Muttafaqun ‘alaih, HR. Muslim 723, Muslim 394, at-Tirmidzi 247, an-Nasa`i 911, Abu Daud 822, Ibnu Majah 837, Ahmad 5/313, ad-Darimi 1242.
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa shalat yang tidak membaca al-Fatihah padanya, maka ia kurang.” Beliau mengatakannya tiga kali. Ada yang bertanya kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ‘Kami berada di belakang imam.’ Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menjawab: ‘Bacalah pada dirimu (dengan suara pelan). HR. Muslim
Di antara surah yang ditentukan adalah surah al-Baqarah dan Ali Imran: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bacalah Zahrawain (yaitu) al-Baqarah dan Ali Imran, sesungguhnya keduanya datang pada hari kiamat seolah-olah dua awan, atau bagaikan dua kelompok burung yang berbulu yang membela pembacanya. Bacalah surat al-Baqarah, sungguh mengambilnya adalah berkah dan meninggalkannya adalah rugi, dan penyihir tidak bisa mengganggunya.” HR. Muslim 804 dan Ahmad 5/249.
Dan dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, sesungguhnya Nabi shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya rumah yang dibacakan surah al-Baqarah di dalamnya tidak bisa dimasuki syetan.” HR. Muslim 780, at-Tirmidzi 2877 dan Ahmad 2/378.
Hal itu dikarenakan di dalamnya ada Ayat Kursi, disebutkan dalam hadits shahih bahwa barangsiapa yang membacanya di malam hari niscaya ia berada dalam penjagaan Allah subhanahuwata’ala dan syetan tidak bisa mendekatinya hingga subuh.
Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, bahwa Jibril as berkata, dan ia berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Ini adalah pintu yang telah dibuka, belum pernah dibuka sebelumnya. Ia berkata: maka turun malaikat darinya, lalu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata:
“Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, belum pernah diberikan kepada nabi sebelum kamu (yaitu) al-Fatihah dan penutut surah al-Baqarah, engkau tidak membaca satu huruf darinya kecuali diberikan kepadamu.” HR.Muslim 806 dan an-Nasa`i 912.
(Surat al-Ikhlas) Juga termasuk surah yang ditentukan keutamaannya disebutkan secara khusus. Tercantum dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya:
“Demi diriku yang berada di tangan-Nya, sesungguhnya ia mengimbangi sepertiga al-Qur’an.” HR. Al-Bukhari 4726, an-Nasa`i 995, Abu Daud 1461, Ahmad 3/35, Malik 483.
Bukanlah maksudnya mengimbanginya dalam fadhilah (keutamaan) bahwa ia mencukupkan darinya (bisa menggantikannya). Karena itulah jika ia membacanya di dalam shalat sebanyak tiga kali niscaya tidak bisa menggantikannya dari membaca al-Fatihah. Tidak berarti sesuatu yang mengimbangi yang lain dalam keutamaan bahwa ia bisa mencukupkannya. Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang membaca Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah subhanahuwata’ala, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan untuk-Nya pujian’ sebanyak sepuluh kali, niscaya pahala seperti memerdekakan empat orang budak dan keturunan nabi Ismail.” HR. Al-Bukhari 6041, Muslim 2693, at-Tirmidzi 3553, dan Ahmad 5/418.
Kendati demikian, jika seseorang berkewajiban membayar empat kafarat empat orang budak lalu ia membaca zikir ini, niscaya tidak bisa menggantikan kewajiban memerdekakan budak ini, sekalipun sama dalam keutamaan.
Di antara surah yang mempunyai keutamaan khusus adalah surah al-Falaq dan an-Naas. Dari Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah engkau tidak memikirkan ayat-ayat yang diturunkan yang tidak ada seumpamanya yaitu surah al-Falaq dan an-Naas.’HR. Muslim. Dan dalam riwayat an-Nasa`I, ‘Tiada seseorang meminta dengan semisalnya dan tidak ada yang berlindung dengan seumpamanya.”
Maka bersungguh-sungguhlah, wahai saudaraku, dalam memperbanyak membaca al-Qur`an yang penuh berkah, terutama di bulan ini yang diturunkan al-Qur`an padanya. Sesungguhnya banyak membaca dalam bulan ini memiliki keutamaan khusus. Jibril ‘alahissalam mengulangi/tadarus al-Qur`an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan sebanyak satu kali setiap tahun, dan pada tahun yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, ia (Jibril ‘alahissalam) melakukannya sebanyak dua kali untuk memperkuat dan memantapkan. Para salafus shalih banyak membaca al-Qur`an di bulan Ramadhan, di dalam shalat dan di luarnya. Imam az-Zuhri rahimahullah, apabila masuk bulan Ramadhan berkata: ‘Sesungguhnya ia adalah bulan membaca al-Qur`an dan memberi makan.’ Apabila masuk bulan Ramadhan, imam Malik rahimahullah meninggalkan membaca hadits dan majelis ilmu, dan mengkhususkan membaca al-Qur`an dari mushhaf. Qatadah rahimahullah mengkhatamkan al-Qur`an setiap kali tujuh malam dan pada bulan Ramadhan setiap tiga malam, dan di sepuluh hari terakhir setiap malam. Ibrahim an-Nakha’i mengkhatamkan al-Qur`an di bulan Ramadhan setiap tiga malam dan pada sepuluh hari terakhir setiap dua malam, dan al-Aswad rahimahullah membaca semua al-Qur`an setiap dua malam di semua bulan.
Ikutilah mereka, semoga Allah subhanahuwata’ala memberi rahmat kepadamu, niscaya engkau menyusul orang-orang baik yang suci. Ambilah kesempatan malam dan siang yang mendekatkanmu kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Sesungguhnya umur terus berjalan cepat dan waktu berlalu semuanya, dan hanya bagaikan satu waktu di siang hari.
Ya Allah, berilah kami taufik untuk membaca kitab-Mu menurut cara yang menyebabkan ridha-Mu kepada kami. Berilah kami petunjuk jalan-jalan kesejahteraan. Keluarkanlah kami dari kegelapan kepada cahaya. Dan jadikanlah ia sebagai hujjah bagi kami bukan atas kami, wahai Rabb semesta alam.
Ya Allah, tinggikanlah derajat kami dengannya, selamatkanlah kami dengannya dari kerendahan, ampunilan kesalahan-kesalahan kami dengannya, ampunilah kami, kedua orang tua kami dan semua kaum muslimin dengan rahmat-Mu wahai Yang Paling pengasih dari yang pengasih.
Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.
Sumber:
1. http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_17685.shtml
2. www.islamhouse.com
http://www.radioassunnah.com/keutamaan-membaca-al-quran/

Copyright @ 2014 STQ Al Haramain.